Toleransi (Tasamuh)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kekayaan budaya di Indonesia memang sudah diakui dunia. Keberagaman suku, bangsa, agama menyebabkan rakyat Indonesia harus hidup berdampingan. Terutama dalam hal yang sangat sensitif yaitu agama. Maka dari itu dibutuhkanlah yang namanya toleransi beragama. Namun terkadang, toleransi yang dilakukan kebablasan. Mereka yang tidak paham akan toleransi yang diajarkan Islam, mencampur-adukkan apa yang dilakukan oleh agama lain sehingga terciptalah PLURALISME yang tak lain adalah salah satu produk orang-orang liberal asing. Lalu bagaimanakah toleransi yang diajarkan Islam ? Bagaimana kita menyikapi perbedaan antar-umat beragama ? Bagaimana agar tercipta kerukunan dan keharmonisan walaupun berbeda keyakinan ?
Mari kita simak ulasan berikut!
I. PENGERTIAN TOLERANSI

Toleransi dalam bahasa arab adalah TASAMUH yang menurut bahasa, artinya adalah sama-sama berlaku baik, lemah lembut, saling memaafkan. Sedangkan dalam istilah Toleransi adalah suatu sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang telah digariskan Islam. Bersikap toleransi berarti bersikap nyaman untuk hidup berdampingan bersama penganut agama lain, dengan menerapkan prinsip agama masing-masing tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Sikap ini dapat diperlihatkan terutama melalui sikap sosial kemasyarakatan.

Sebagai muslim, kita wajib saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Karena perbedaan adalah rahmat. Untuk itu kita tidak boleh memaksakan umat agama lain untuk masuk kedalam Islam karena itu tidak diajarkan dalam Islam. Sebagai mana firman Allah:

 لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)… (QS. Al-Baqoroh:256)

Ayat ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan toleransi dan perdamaian. Dunia selama ini diselimuti oleh Islamophobia (ketakutan pada Islam) sejak runtuhnya gedung WTC di New York AS September 2001 silam. Padahal itu adalah propaganda orang-orang kafir untuk memfitnah umat Islam, menjelek-jelekkan Islam dimata dunia karena mereka, qoumil kafirin sangat iri terhadap kemajuan Islam yang begitu pesat. Teroris jelas bukan produk Islam. Jikalau mereka mengatas-namakan Islam, maka koreksi lagi ! Itu bukan yang diajarkan Islam. Islam memang mengajarkan untuk berjihad, namun bukan seperti itu caranya. Berjihad dilakukan apabila Islam diserang. Contoh seperti di Palestina, Suriah, Mesir, Irak, Tunisia yang sedang bergejolak, maka umat Islam diwajibkan untuk berjihad untuk mempertahankan akidah Islam.

II. TOLERANSI DALAM ISLAM

Bagaimana Toleransi yang diajarkan Islam ? Hal ini sangat penting, terlebih saat ini adalah zaman dimana masyarakat dituntut untuk lebih mempelajari ilmu dunia dari pada agama. Padahal jika toleransi yang kita lakukan kebablasan, maka fatal akibatnya.

Bolehkan orang Islam menghadiri hari raya agama lain ? Bolehkah umat Islam mengucapkan selamat atas hari raya agama lain ? Bolehkah orang Islam mengucapkan salam kepada orang non-islam ? Jarang sekali  ada orang yang bertanya tentang hal tersebut. Padahal beberapa hal diatas DILARANG karena bersangkut-paut dengan akidah. Simak hadits berikut:

“Man tasyabbaha bi qoumin, fa huwa minhum”
Artinya: Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka Ia termasuk kaum tersebut.

Sebagai contoh disini saya ambil Hari Raya Natal yang diperingati oleh umat nasrani. Banyak orang Islam yang tidak mengerti dan mereka mengucapkan “Selamat Natal” pula. Padahal secara tidak sadar mereka telah tasyabbuh (menyerupai) kepada suatu kaum. Mengucapkan selamat saja dilarang apalagi merayakan !

Lalu bagaimana dengan ucapan salam ? Umat Islam dilarang memberikan salam kepada umat non-islam.
Simak Hadits berikut:

Artinya: Dari Abu Hurairoh ra. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Jangan kamu sekalian lebih dahulu mengucapkan  salam kepada orang Yahudi dan Nasrani” (HR. Muslim).

Lalu bagaimana jika kita berbicara di hadapan orang banyak dengan berbagai macam agama ? Salam seperti apa yang kita ucapkan ? Ucapkan saja seperti biasa, namun diniatkan hanya untuk orang-orang Islam yang ada di depan kita. Karena percuma saja mendo’akan (dengan salam) orang non-Islam, do’anya pun takkan bermanfaat untuk mereka. Ada pertanyaan lagi, bagaimana jika yang memberi salam adalah orang non-Islam ?
Simak Hadits berikut ini:

Artinya: Dari Anas ra. Rosulullah SAW berkata: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan wa’alaikum. (HR. Bukhori).

Beberapa penjabaran diatas adalah Toleransi yang dilarang dalam Islam yaitu dalam hal akidah.

III. ASBABUN NUZUL QS. AL_KAFIRUN

Beberapa tokoh kafir di Mekkah seperti Al-Walid bin Al-Mughiroh, Aswad bin Abdul Mutholib dan Umayah bin Kholaf, datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk menawarkan kerja sama yang menyangkut pelaksanaan peribadahan. Mereka mengajak Nabi SAW dan pengikutnya mengikuti kepercayaan mereka dan mereka pun akan mengikuti kepercayaan Nabi SAW dan pengikutnya yakni Agama Islam. Mereka berkata “Wahai Muhammad! Bagaimana jika kami menyembah Tuhanmu selama setahun dan kamu juga menyembah Tuhan kami selama setahun. Jika agamamu benar, kami mendapat keuntungan, karena kami juga menyembah Tuhanmu, dan jika agama kami yang benar,  kamu juga akan mendapatkan keuntungan. Mendengar ajakan tersebut, Rosulullah SAW menjawab dengan tegas “Aku berlindung kepada Allah SWT agar tidak tergolong orang-orang yang bersika syirik atau menyekutukan Allah SWT.” Kemudian Allah SWT menurunkan Surat Al-Kafirun. Setelah Nabi SAW menerima wahyu tersebut, Beliau mendatangi tokoh-tokoh kaum kafir Mekkah yang waktu itu sedang berkumpul di Masjidil Haram. Nabi SAW membacakan Surah Al-Kafirun ayat 1-6 dihadapan mereka, sehingga mereka menyadari bahwa usul/ajakan untuk bekerjasama dalam hal keimanan dan peribadahan ditolak oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari cerita diatas jelas tidak ada toleransi dalam akidah. Lalu bagaimana toleransi yang diperbolehkan dalam Islam ? Yaitu toleransi yang hanya menyangkut urusan hablum-minan-naas, yakni dalam hal mu’amalah atau bermasyarakat.
Tentulah kita sudah diajarkan sejak SD apa saja perbuatan yang mencerminkan toleransi.

Berikut ini beberapa contoh toleransi:

  1. Menghormati keyakinan agama lain. Bukan berarti disini kita membiarkan orang itu tersesat pada kekafiran. Tapi memang hanya Allah yang bisa memberikan hidayah kepada orang tersebut. Kita bisa mengingatkan secara tidak langsung. Contoh, ceramah yang dilakukan di masjid dengan pengeras suara, secara tidak langsung mengenalkan Islam kepada orang non-Islam. Namun dengan catatan, isi ceramah tidak mendiskriminasi dan menyinggung perasaan umat non-Islam.
    Mempersilahkan umat non-Islam beribadah sesuai keyakinan mereka.
  2. Tidak bertindak mendiskriminasi. Sesuai firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh:256
  3. Bergaul dengan ramah antar-umat.
  4. Tetap menerima Ilmu yang bermanfaat dari orang-orang yang bukan Islam. Contoh: Guru non-Islam sedangkan muridnya mayoritas Islam, maka murid harus tetap menerima apa yang diajarkan selama itu tidak melenceng dari akidah Islam.
  5. Mempersilahkan umat lain merayakan hari rayanya dengan catatan kita tidak boleh ikut serta dalam hari raya tersebut walaupun hanya sekedar mengucapkan selamat.

Masih banyak hal lainnya, bahkan mungkin Anda punya jawaban masing-masing.

Dari sini kita ketahui bahwa Islam adalah Rohmatan Lil ‘Alamiin. Agama yang cinta kedamaian dan kerukunan. Jadi tetaplah kita haurs toleransi dengan tetap memegang akidah Islam dan tidak mencampur adukkannya dengan akidah agama lain.

Sekian, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Categories: Artikel Islami, Info Islam | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Masih Bingung Memilih Pemimpin ?

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Beberapa bulan yang lalu, Indonesia melaksanakan pesta demokrasinya yakni pemilu. Mungkin tahun ini adalah pemilu paling heboh karena masing-masing kubu tidak mau mengalah dan menganggap kubunya lebih baik :D

Oh iya, tahun ini juga saya pertama kalinya mengikuti pemilu. Sebelumnya saya sempat berpikiran untuk golput karena tidak mengerti politik. Hehehe :D

Tapi pada akhirnya saya memilih juga, karena saya sadar bahwa 1 suara akan menentukan nasib bangsa indonesia ke depannya :)

Nah buat yang ga ngerti-ngerti amat tentang politik atau buat pemilih newbie, bisa baca artikel ini. Berikut cara memilih pemimpin yang baik menurut Islam.

Cekidot :)

Yang pertama kali pastinya pilihlah pemimpin yang baligh, sehat jasmani dan rohaninya serta berpendidikan. Apakah sudah cukup ? Eits sudah tentu belum, sebagai orang islam kita harus memilih pemimpin orang islam yang benar-benar beriman.

Sebagaimana firman Allah:

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

(QS ALI IMRAN : 28)

Firman-Nya yang lain:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(QS AL MAA-IDAH : 51)

Nah sekarang bagaimana jika kita memilih pemimpin dari selain umat Islam ?

Ini ancaman Allah:

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.  

(QS   AL ANFAAL : 73)

Nah, jika semua calon pemimpin beragama Islam, mari kita tinjau dari segi amal shalehnya. Loh bagaimana caranya ? Tentu saja dengan mengenal lebih jauh calon pemimpin yang ada dan menilainya secara objektif.

Yang ketiga, pemimpin tersebut harus mempunyai niat yang lurus. Tidak ambisi meraih jabatan/tidak meminta jabatan.

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,

”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Karena itu hendaklah mencari seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

Yang ini agak sulit karena niat hanya Allah yang tau, tapi kita dapat menilai sikapnya dari rekam jejaknya. Sering-sering aja nonton berita/baca koran untuk referensi :D

Buat yang ke-empat, bukannya mendiskreditkan wanita (maaf) tapi memang beginilah aturan dalam islam. Pilihlah pemimpin laki-laki

Dalam Al-qur’an surat An nisaa’ (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”
(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

Sifat selanjutnya, cari tahu apakah si calon pemimpin berpegang teguh pada hukum Allah atau tidak. Karena ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.
Allah berfirman,

”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

Ke-enam yaitu Tegas. Carilah pemimpin yang tegas. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

Terakhir Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

Sebagai seorang muslim/muslimat sudah sepatutnyalah kita menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai tolak ukur dalam menentukan suatu pilihan, terutama untuk memilih pemimpin. Ikuti Al-Qur’an dan Hadits, maka Indonesia akan selamat. hehehe ..

Mungkin sekian, semoga bermanfaat untuk lima tahun yang akan datang :D

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Categories: Artikel Islami, Info Islam | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.