Masih Bingung Memilih Pemimpin ?

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Beberapa bulan yang lalu, Indonesia melaksanakan pesta demokrasinya yakni pemilu. Mungkin tahun ini adalah pemilu paling heboh karena masing-masing kubu tidak mau mengalah dan menganggap kubunya lebih baik :D

Oh iya, tahun ini juga saya pertama kalinya mengikuti pemilu. Sebelumnya saya sempat berpikiran untuk golput karena tidak mengerti politik. Hehehe :D

Tapi pada akhirnya saya memilih juga, karena saya sadar bahwa 1 suara akan menentukan nasib bangsa indonesia ke depannya :)

Nah buat yang ga ngerti-ngerti amat tentang politik atau buat pemilih newbie, bisa baca artikel ini. Berikut cara memilih pemimpin yang baik menurut Islam.

Cekidot :)

Yang pertama kali pastinya pilihlah pemimpin yang baligh, sehat jasmani dan rohaninya serta berpendidikan. Apakah sudah cukup ? Eits sudah tentu belum, sebagai orang islam kita harus memilih pemimpin orang islam yang benar-benar beriman.

Sebagaimana firman Allah:

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

(QS ALI IMRAN : 28)

Firman-Nya yang lain:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(QS AL MAA-IDAH : 51)

Nah sekarang bagaimana jika kita memilih pemimpin dari selain umat Islam ?

Ini ancaman Allah:

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.  

(QS   AL ANFAAL : 73)

Nah, jika semua calon pemimpin beragama Islam, mari kita tinjau dari segi amal shalehnya. Loh bagaimana caranya ? Tentu saja dengan mengenal lebih jauh calon pemimpin yang ada dan menilainya secara objektif.

Yang ketiga, pemimpin tersebut harus mempunyai niat yang lurus. Tidak ambisi meraih jabatan/tidak meminta jabatan.

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,

”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Karena itu hendaklah mencari seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

Yang ini agak sulit karena niat hanya Allah yang tau, tapi kita dapat menilai sikapnya dari rekam jejaknya. Sering-sering aja nonton berita/baca koran untuk referensi :D

Buat yang ke-empat, bukannya mendiskreditkan wanita (maaf) tapi memang beginilah aturan dalam islam. Pilihlah pemimpin laki-laki

Dalam Al-qur’an surat An nisaa’ (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”
(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

Sifat selanjutnya, cari tahu apakah si calon pemimpin berpegang teguh pada hukum Allah atau tidak. Karena ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.
Allah berfirman,

”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

Ke-enam yaitu Tegas. Carilah pemimpin yang tegas. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

Terakhir Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

Sebagai seorang muslim/muslimat sudah sepatutnyalah kita menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai tolak ukur dalam menentukan suatu pilihan, terutama untuk memilih pemimpin. Ikuti Al-Qur’an dan Hadits, maka Indonesia akan selamat. hehehe ..

Mungkin sekian, semoga bermanfaat untuk lima tahun yang akan datang :D

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Categories: Artikel Islami, Info Islam | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Mana yang Benar ? In Syaa Allah atau In Shaa Allah ?

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Sebenernya cukup ketinggalan zaman juga sih postingan ini. Tapi ora popo lah, yang namanya ilmu kan ga pernah basi :D

Postingan ana kali ini membahas perdebatan penulisan In Syaa Allah yang benar. Mungkin muncul pertanyaan, mana yang benar ? Oke, to the point aja. Cekidot :)

Pertama-tama, bahasa Arab dan bahasa Indonesia tentu berbeda, bila bahasa Indonesia disusun berdasarkan huruf alfabet A-B-C dan seterusnya, sama seperti bahasa Inggris, tidak dengan bahasa Arab. Bahasa Arab tersusun dari huruf hijaiyah semisal ا (alif), ب (ba), ت (ta) dan seterusnya. perbedaan inilah yang akhirnya mengharuskan adanya transliterasi (penulisan bahasa asing kedalam bahasa Indonesia), misalnya, kata الله dalam bahasa Arab, bila di-transliterasikan ke dalam bahasa Indonesia bisa jadi “Allah”, “Alloh”, “Awloh” atau apapun yang senada dengan bacaan asli Arabnya, tergantung kesepakatan transliterasi bila orang Indonesia sudah nyaman membaca tulisan الله dengan transliterasi “Allah” ya tidak perlu diganti dengan “Alloh” atau “Awloh”, toh bacanya juga sama walau tulisannya beda by the way, bahkan kalo orang nulis Allah dengan huruf kecil juga nggak dosa, karena dalam bahasa Arab aslinya الله pun nggak ada huruf besar dan huruf kecil hanya kembali lagi, karena transliterasi dan penghormatan kepada Dzat Yang Maha Agung, ya sejatinya sudah kita tulis dengan “Allah”.

Ok, sekarang, Insya Allah atau In Shaa Allah? yang bener إن شاء الله  hehe.. jadi kita bedah begini ceritanya

إن = bila
شاء = menghendaki
الله = Allah

إن شاء الله = bila Allah berkehendak

Nah, balik lagi ke transliterasi, terserah kesepakatan kita mau mentransliterasikan huruf ش jadi apa, “syaa” atau “shaa” ?, kalo di negeri berbahasa Inggris sana, kata ش diartikan jadi “shaa”, kalo di Indonesia jadi “syaa” masalahnya di Indonesia, huruf ص sudah ditransliterasikan jadi “shaa”, kalo disamain jadi tabrakan deh.. Saya pribadi lebih suka mentransliterasikan إن شاء الله jadi “In Syaa ‘Allah”, lebih simpel dan sesuai transliterasi bahasa Indonesia nah, bagaimana katanya kalo ada yang bilang “InsyaAllah” berarti artinya “menciptakan Allah?”, naudzubillahi min dzalik… karena yang satu ini beda lagi masalahnya karena إنشاء (menciptakan/membuat) beda dengan إن شاء (bila menghendaki) dan pemakaiannya dalam kalimat berdasarkan kaidah bahasa Arab pun berbeda bunyinya, bila إن شاء الله dibacanya “InsyaAllahu” (bila Allah menghendaki) bila إنشاء الله dibacanya “Insyaullahi” (menciptakan Allah).

Kesimpulannya ? jadi kalo kita nulis pake “InsyaAllah”, atau “In Syaa Allah”, atau “In Shaa Allah” bacanya sama aja dan artinya sama aja, yaitu “bila Allah menghendaki”, jadi nggak ada arti lainnya yang paling bagus, ya udah, nulis dan ngomong pake bahasa Arab aja sekalian, lebih aman hehe.. (tapi yang nulis pun bakal kesulitan hehehe..)

Untuk penulisan “in syaa Allah”, Jika ingin mengoreksi agar benar-benar tepat, maka penulisan “in syaa Allah” sendiri sebetulnya masih kurang benar. Harusnya jika memang “benar-benar ingin benar” maka transliterasinya adalah “in syaa-a Allaah”, dan ketika menulis “Masya Allah” ia harus menulis “masyaa-a Allaah”, dst.

Nah itu dia ilmu yang Saya dapatkan, semoga bermanfaat. Dan… jangan debat lagi ya :D

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Categories: Artikel Islami, Info Islam | Tags: , , , , | Tinggalkan komentar

Proudly powered by WordPress Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.